Dalil Badal Haji dan Umroh

  1. Pendahuluan

Realitas yang terjadi saat ini, berdasarkan informasi dari jamaah yang membadalkan hajinya atau orang tuanya atau suaminya atau keluarganya yang lain. Ibadah haji sebagai rukun Islam yang ke lima dibadalkan oleh orang lain yang ada di tanah suci, oleh pembimbing manasik haji yang mendampingi jamaah bimbingannya ke tanah suci atau oleh anak, suami atau isteri atau orang tuanya. Bahkan ada informasi penerima badal membadalkan haji beberapa orang dalam waktu yang bersamaan. Dari fenomena tersebut muncul beberapa pertanyaan dari jamaah pengajian tentang hukum membadalkan haji dan bagaimana caranya yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Pembahasan

Keinginan umat Islam untuk melaksanakan haji sangat tinggi. Namun ada sebagian orang yang tidak dapat atau tidak sanggup melakukannya.  Oleh sebab itu, ada upaya untuk menunaikan kewajiban orang tua atau saudara atau suami/ isteri(badal).

Badal haji menjadi menarik untuk dibahas  karena realitasnya berbagai cara badal haji yang dilakukan olh umat Islam.  Untuk meluruskan pemahaman perlu diperhatikan tuntunan Rasulullah tentang badal haji dimaksud. Bagitu juga dalam beberapa ayat terdapat beberapa penjelasan Allah bahwa orang hanya akan mendapatkan sesuatu dari Allah atas usahanya sendiri .

            Diantara dalil al-Qur’an yang menjelaskannya adalah:

  1. … ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa):
  1. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
  2. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
  3. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya

            Ada juga hadis Rasul yang mengungkap bahwa ketika manusia telah meninggal, maka terputus semua amalannya, kecuali yang dulu sedah dilakukannya (amal jariayah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Al-Tirmizi, Muslim washiyyat, al-Nasai , Abu Daud Ibn Majah, Al-Darimi, kitabMuqaddimah

Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: apabila manusia meninggal, maka terputus amalannya kecuali dari3 (tiga) hal, yaitu: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh

                Apabila diperhatikan  dalil hadis yang membolehkan badal haji, bukan berarti ada pertentangan yang memberikan pemahaman tidak konsisten.  Tetapi ada beberapa hal yang secara inplisit tidak dapat dipahami oleh kita.

Diantara hadis yang memberikan penjelasan adalah:

Penyebab boleh Badal Haji

  1. Tidak sanggup melakukannya karena tua dan tidak sanggup di perjalanan

Berdasaraka hadis:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 710, Muslim, juz 2, h. 973 dan 974; al-Tirmizi, juz 2, h. 203-204; (2 hadis); al-Darimi, juz 2, h. 40-41 (5 hadis); Ibnu Majah juz 2, h. 970; Abu Daud juz 2, h. 161-162; al-Nasa’i. juz 5, h. 117)

Dari putra-putra Abbas (Abdullah dan al-Fadhl) pada waktu haji wada’ seorang wanita dari suku Khats’am bertanya: Ya Rasulullah haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, tapi bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya.

  1. Karena nazar yang sudah diungkapkan tapi belum sempat ditunaikan sampai mati

Berdasarka Hadis

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 709-710; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 183)

Dari Ibn ‘Abbas seorang perempuan dari suku Juhnah datang kepada Rasul bertanya: ibuku telah bernazar untuk melakukan haji, tetapi tidak melaksanakan haji sampai ia meninggal, apakah aku harus menghajikan ibuku ?.  Rasul menjawab: Hajikanlah ibumu, apakah kalau ibumu punya hutang kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  Bayarkanlah, hak Allah lebih berhak untuk disempurnakan. 

  1. Karena telah meninggal

Berdasarakan Hadis:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ

(H.R. Kitab al-Tirmizi juz 2, h. 205; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 41; Ibnu Majah juz 2, h. 969 bandingkan dengan Muslim kitab Shiyam no. 1939)

Buraidah menyatakan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasul lalu bertanya: ibuku telah meninggal dan ia belum haji, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya, hajikanlah ibumu !

Syarat yang akan membadalkan haji

  1. Anak perempuan yang akan membadalkan ibunya.

Berdasarkan Hadis:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ

(H.R. Kitab al-Tirmizi juz 2, h. 205; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 41; Ibnu Majah juz 2, h. 969 bandingkan dengan Muslim kitab Shiyam no. 1939)

Buraidah menyatakan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasul lalu bertanya: ibuku telah meninggal dan ia belum haji, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya, hajikanlah ibumu !

Anak perempuan yang akan membadalkan ayahnya.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 710, Muslim, juz 2, h. 973 dan 974; al-Tirmizi, juz 2, h. 203-204; (2 hadis); al-Darimi, juz 2, h. 40-41 (5 hadis); Ibnu Majah juz 2, h. 970; Abu Daud juz 2, h. 161-162; al-Nasa’i. juz 5, h. 117)

Dari putra-putra Abbas (Abdullah dan al-Fadhl) pada waktu haji wada’ seorang wanita dari suku Khats’am bertanya: Ya Rasulullah haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, tapi bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya.

Anak laki-laki yang akan membadalkan ayahnya

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلا الْعُمْرَةَ وَلا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

(H.R. al-Tirmizi, juz 2, h. 204; al-Nasa’I, juz 5, h. 114-115; Abu Daud, juz 2, h. 162; Ibnu Majah, juz 2, h. 970 )

Abu Razin al-‘Uqaili mendatangi Rasul dan berkata: ya Rasulullah bapakku sudah sangat tua, tidak sanggup melaksanakan haji, dan umrah,  Rasulullah bersabda: Hajikanlah dan umrahkanlah bapakmu !

Bahkan ada anjuran anak laki-laki tertua dalam hadis:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنْ خَثْعَمَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لا يَسْتَطِيعُ الرُّكُوبَ وَأَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ فَهَلْ يُجْزِئُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ آنْتَ أَكْبَرُ وَلَدِهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَكُنْتَ تَقْضِيهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَحُجَّ عَنْهُ

(H.R. al-Nasa’i, juz 5, h. 120; al-Darimi, juz 2, h. 41 dan Ahmad bin Hnabal, Awwal Musnad al-Madaniyyin no. 15520 dan 15540)

Abdullah bin Zubair menyatakan seorang alki-laki dari suku Khats’am bertanya: bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji, padahal haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul bertanya: apakah anda anak lakai-laki tertua ? ia menjawab: Ya, Ya Rasulullah. Rasul  bertanya apakah kalau bapakmu punya hutang kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  ia menjawab: Ya. Rasul bersabda: hajikanlah bapakmu !

  1. Saudara laki-laki atau perempuan yang akan membadalkan saudaranya.

Berdasarkan Hadis:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي

(H.R. Abu Daudjuz 2, h. 162; Ibn Majah juz 2, h. 969)

Dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rasul mendengar seorang laki-laki berkata: hajikan Syubramah, Rasul bertanya: siapa Syubramah, ia menjawab: saudara laaki-lakiku

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ فَأَتَى أَخُوهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاقْضُوا اللَّهَ فَهُوَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

(H.R. al-Bukhari, kitab aaiman wa al-nazar, no. 6205; al-Nasa’I, juz 5, h. 116; Ahmad bin Hanbal, Musnad Bani Hasyim, no. 2033)

Dari Ibn ‘Abbas seorang perempuan telah bernazar untuk melakukan haji, tetapi tidak melaksanakan haji sampai ia meninggal lalu saudaranya datang kepada Rasul dan bertanya tentang masalah itu. Rasul menjawab: apakah kalau saudaramu punya hutang apakah kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  ia menjawab; Ya, Rasulullah bersabda: Bayarkanlah, hak Allah lebih berhak untuk disempurnakan. 

  1. Sudah melaksanakan haji bagi dirinya

      Berdasarkan hadis:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

(H.R. Abu Daudm juz 2, h. 162; Ibn Majah juz 2, h. 969)

Dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rasul mendengar seorang laki-laki berkata: hajikan Syubramah, Rasul bertanya: siapa Syubramah, ia menjawab: saudara laaki-lakiku. Rasul bertanya: apakah kamu sudah melaksanakan haji ?, ia menjawab : belum ya Rasulullah.  Rasul bersabda: laksanakan haji untuk dirimu dulu, baru tahun berikutnya hajikan saudaramu

Ibadah haji bagi yang sudah memenuhi kewajiban haji wajib dilakukan. Bagi yang tidak dapat melakukannya karena uzur (sakit,atau tua) atau sudah meninggal, dinazarkan atau pun tidak maka:

  1. Dapat dilakukan oleh keluarganya (anak, atau  saudara laki-laki/ perempuan.
  2. Yang sebelumnya sudah pernah menunaikan ibadah haji .

Dalam hadis di atas tidak dapat haji itu dibadal oleh orang yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan (nasab)

 Namun ada pendapat ulama yang membolehkan haji dibadalkan oleh orang lain yang sudah haji.

Sedangkan untuk orang yang menerima badal untuk banyak orang tentu saja tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah karena badal haji hanya dapat dilakukan oleh seseorang untuk satu orang saja.

Kita melihat sebagian orang terlalu bermudah-mudahan menghajikan orang lain, alias membadalkan haji.
Padahal tidak mudah begitu saja membadalkan haji, ada syarat,ketentuan dan hukum yang mesti diperhatikan.

Di antara ketentuan yang ada, haji sudah kita ketahui bersama diperintahkan bagi yang memiliki kemampuan saja. Sedangkan jika miskin, maka tidak diwajibkan untuk berhaji. Jika tidak diwajibkan maka tentu tidak wajib dibadalkan.

Pd pembahasan badal ini,kita lebih konsentrasi membahas syarat dan ketentuan badal haji tersebut. Di antara ketentuan yang perlu diperhatikan dalam badal haji adalah sebagai berikut:

1- Tidak sah badal haji dari orang yang mampu melakukan haji Islam dengan badannya.

Ibnu Qudamah mengatakan,
“Tidak boleh menggantikan haji wajib dari seseorang yang mampu melaksanakan haji dengan dirinya sendiri. Ini disepakati (ijma’) oleh para ulama.

Ibnul Mundzir berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang punya kewajiban menunaikan haji Islam dan ia mampu untuk berangkat haji, maka tidak sah jika yang lain menghajikan dirinya.” (Al Mughni, 3: 185)

2- Badal haji hanya untuk orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya, atau untuk orang yang tidak mampu secara fisik, atau untuk orang yang telah meninggal dunia.

___________

Komisi Fatwa di Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) ditanya,

“Bolehkah seorang muslim menghajikan salah seorang kerabatnya di negeri Cina yang tidak mampu pergi menunaikan haji yang wajib?”

Para ulama yang duduk di Lajnah Daimah menjawab,

“Boleh bagi seorang muslim menunaikan haji wajib untuk orang lain (badal haji) jika orang lain tersebut tidak mampu menunaikan haji dengan dirinya sendiri dilihat dari umurnya yang sudah tua, atau karena sakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya, atau karena telah meninggal dunia.

Bolehnya hal ini karena ada hadits shahih yang menerangkannya. Namun jika orang yang dihajikan tidak mampu berhaji saat itu saja semisal tertimpa penyakit yang bisa diharapkan sembuhnya, atau karena keadaan politik dalam negeri, atau perjalanan yang tidak aman, maka tidak sah membadalkan haji untuknya.”

[Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdur Rozaq, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud. Fatawa Al Lajnah 11: 51]

3- Membadalkan haji bukan untuk orang yang tidak mampu secara harta. Karena jika yang dibadalkan hajinya itu miskin (tidak mampu berhaji dilihat dari hartanya), maka gugur kewajiban haji untuknya.

Membadalkan haji cuma untuk orang yang tidak mampu secara fisik saja.

__________

Al Lajnah Ad Daimah ditanya,
“Bolehkah seseorang mengumrohkan atau menghajikan kerabatnya yang jauh dari Mekkah dan memang ia tidak punya apa-apa untuk ke Mekkah, namun ia mampu untuk melakukan thowaf?”

Jawab para ulama di Lajnah,

“Kerabat yang engkau sebut tidak wajib untuk berhaji karena ia tidak mampu berhaji secara finansial (tidak punya kecukupan harta). Sehingga tidak sah membadalkan haji atau umroh untuknya. Yang dianggap sah adalah jika ia sebenarnya mampu untuk menunaikan haji atau umroh dengan badannya, yaitu ia bisa hadir di tempat-tempat haji.
Sehingga boleh menghajikan mayit dan orang yang tidak mampu untuk berhaji secara fisik (tapi punya kemampuan finansial, pen).”

[Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdur Rozaq, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud. Fatawa Al Lajnah 11: 52]

4- Para ulama di Al Lajnah Ad Daimah berkata,
“Tidak boleh seseorang menghajikan orang lain sebelum ia berhaji untuk dirinya sendiri.

Dalil dari hal ini adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata, “Labbaik ‘an Syabromah [Aku memenuhi panggilan-Mu, dan ini haji dari Syabromah]”.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu sendiri?” “Tidak”, jawabnya. Lantas beliau bersabda, “Berhajilah untuk dirimu terlebih dahulu, baru engkau menghajikan Syabromah.”

[Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan. Fatawa Al Lajnah 11: 50]

5- Wanita boleh membadalkan haji laki-laki, begitu pula sebaliknya.

__________
Para ulama Lajnah berkata,
“Membadalkan haji itu dibolehkan jika orang yang membadalkan telah berhaji untuk dirinya sendiri. Begitu pula jika seseorang menyuruh wanita untuk membadalkan haji ibunya, itu boleh. Sama halnya pula jika seorang wanita membadalkan haji untuk wanita atau pria, itu pun boleh. Sebagaimana adanya dalil shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan hal ini.” [Fatwa Al Lajnah 11: 52]

6- Tidak boleh seseorang membadalkan haji dua orang atau lebih dalam sekali haji.

__________
Para ulama yang duduk di Lajnah berkata,
“Tidak boleh seseorang dalam sekali haji membadalkan haji untuk dua orang sekaligus, badal haji hanya boleh untuk satu orang, begitu pula umrah. Akan tetapi seandainya seseorang berhaji untuk orang dan berumrah untuk yang lainnya lagi dalam satu tahun, maka itu sah asalkan ia sudah pernah berhaji atau berumrah untuk dirinya sendiri.”

[Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud. Fatawa Al Lajnah 11: 58]

__________
✔Catatan:

Demikianlah banyak di antara warga kita yang tertipu di Mekkah. Perlu diketahui bahwa badal haji yang saat ini dilakukan sebagian warga kita di Mekkah kadang cuma dijadikan bisnis.

Buktinya (dan banyak yang menceritakan hal ini), ada yang membadalkan haji untuk 10 orang sekaligus dalam sekali haji. Bagaimana mungkin hal ini dibenarkan?! Jadi jangan sampai tertipu dengan sindikat para penipu dalam ibadah badal haji.

7- Tidak boleh bagi seorang pun membadalkan haji dengan maksud untuk cari harta. Seharusnya tujuannya membadalkan haji adalah untuk melakukan ibadah haji dan sampai ke tempat-tempat suci serta berbuat baik kepada saudaranya dengan melakukan badal haji untuknya.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, ”Badal haji dengan tujuan hanya ingin cari harta, maka Syaikhul Islam rahimahullah menyatakan bahwa barang siapa berhaji dan cuma ingin cari makan, maka di akhirat ia tidak akan mendapat bagian sedikit pun.

Namun barangsiapa yang niatannya memang ingin berhaji, maka tidaklah mengapa. Jadi barangsiapa melakukan badal haji untuk orang lain, maka niatan ia seharusnya adalah untuk menolong dan untuk memenuhi hajat saudaranya. Karena yang dibadalkan adalah orang yang butuh. Tentu ia senang jika ada orang lain menggantikan dirinya. Maka niatannya adalah berbuat baik untuk menunaikan hajat saudaranya dan dengan niatan yang baik pula.” [Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 89, pertanyaan 6]

8- Pahala amalan haji apakah untuk yang membadalkan ataukah yang dibadalkan?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Pahala badal haji jika berkaitan dengan kegiatan manasik, maka semuanya akan kembali pada orang yang diwakilkan (orang yang dibadalkan).

Adapun untuk berlipatnya pahala dari sisi shalat, thowaf yang sunnah yang tidak berkaitan dengan amalan manasik haji, begitu pula dengan bacaan Al Qur’an akan kembali pada yang menghajikan (orang yang membadalkan).”
[Adh Dhiyaa’ Al Laami’ min Khitob Al Jawaami’, 2: 478]

Namun Ibnu Hazm rahimahullah berkata dari Daud, ia berkata, “Aku berkata pada Sa’id bin Al Musayyib: Wahai Abu Muhammad, pahala badal haji untuk orang yang menghajikan ataukah yang dibadalkan?

Jawab beliau, Allah Ta’ala bisa memberikan kepada mereka berdua sekaligus.”

9- Lebih afdhol, anak membadalkan haji kedua orang tuanya atau kerabat membadalkan haji kerabatnya. Namun jika orang lain selain kerabat yang membadalkan, juga boleh.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya mengenai apakah si anak membadalkan haji orangtuanya sendiri ataukah menyewa orang lain untuk menghajikannya.

Beliau menjawab, “Jika engkau menghajikan orang tuamu dengan dirimu sendiri, lalu engkau bersungguh-sungguh menyempurnakan hajimu tersebut, maka itu lebih baik. Namun jika engkau mempekerjakan orang lain untuk menghajikan orang tuamu di mana orang yang menghajikan punya agama yang bagus dan amanah, maka tidak mengapa.”
[Fatwa Syaikh Ibnu Baz, 16: 408]

10- Seharusnya betul-betul perhatian untuk memilih orang yang membadalkan haji yaitu carilah orang yang amanat dan memahami benar ibadah haji.

Para ulama Al Lajnah Ad Daimah berkata, “Seharusnya bagi orang yang ingin mencari siapa yang ingin membadalkan haji, hendaklah ia memilih yang bagus agamanya dan amanah sehingga ia merasa tenang ketika ibadah wajib tersebut ditunaikan oleh orang lain.”
[Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 11: 53][1]

Semoga mendapat ilmu yang bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Tulisan ini Disadur dari fatwa lajnah daimah demikian juga dari liqo’ al bab maftuh syaikh ibnu utsaimin rohimahulloh ta’ala.

Orang yang mati dan belum berhaji tidak lepas dari dua keadaan:

Pertama:

Saat  hidup mampu berhaji dengan badan dan hartanya, maka orang yang seperti ini wajib bagi ahli warisnya untuk menghajikannya dengan harta si mayit. Orang seperti ini adalah orang yang belum menunaikan kewajiban di mana ia mampu menunaikan haji walaupun ia tidak mewasiatkan untuk menghajikannya. Jika si mayit malah memberi wasiat agar ia dapat dihajikan, kondisi ini lebih diperintahkan lagi. Dalil dari kondisi pertama ini adalah firman Allah Ta’ala,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ

Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, [yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]” (QS. Ali Imran: 97)

Juga disebutkan dalam hadits shahih, ada seorang laki-laki yang menceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sungguh ada kewajiban yang mesti hamba tunaikan pada Allah. Aku mendapati ayahku sudah berada dalam usia senja, tidak dapat melakukan haji dan tidak dapat pula melakukan perjalanan. Apakah mesti aku menghajikannya?” “Hajikanlah dan umrohkanlah dia”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dan An Nasai). Kondisi orang tua dalam hadits ini telah berumur senja dan sulit melakukan safar dan amalan haji lainnya, maka tentu saja orang yang kuat dan mampu namun sudah keburu meninggal dunia lebih pantas untuk dihajikan.

Di hadits lainnya yang shahih, ada seorang wanita berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji. Namun beliau tidak berhaji sampai beliau meninggal dunia. Apakah aku mesti menghajikannya?” “Berhajilah untuk ibumu”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Ahmad dan Muslim)

Kedua:

Jika si mayit dalam keadaan miskin sehingga tidak mampu berhaji atau dalam keadaan tua renta sehingga semasa hidup juga tidak sempat berhaji. Untuk kasus semacam ini tetap disyari’atkan bagi keluarganya seperti anak laki-laki atau anak perempuannya untuk menghajikan orang tuanya. Alasannya sebagaimana hadits yang disebutkan sebelumnya.

Begitu pula dari hadits Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu atas nama Syubrumah), maka beliau bersabda, “Siapa itu Syubrumah?” Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku –atau kerabatku-”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu hajikanlah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud). Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara mauquf (hanya sampai pada sahabat Ibnu ‘Abbas). Jika dilihat dari dua riwayat di atas, menunjukkan dibolehkannya menghajikan orang lain baik dalam haji wajib maupun haji sunnah.

Adapun firman Allah Ta’ala,

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39). Ayat ini bukanlah bermakna seseorang tidak mendapatkan manfaat dari amalan atau usaha orang lain. Ulama tafsir dan pakar Qur’an menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah amalan orang lain bukanlah amalan milik kita. Yang jadi milik kita adalah amalan kita sendiri. Adapun jika amalan orang lain diniatkan untuk lainnya sebagai pengganti, maka itu akan bermanfaat. Sebagaimana bermanfaat do’a dan sedekah dari saudara kita (yang diniatkan untuk kita) tatkala kita telah meninggal dunia. Begitu pula jika haji dan puasa sebagai gantian untuk orang lain, maka itu akan bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati namun masih memiliki utang puasa, maka hendaklah ahli warisnya membayar utang puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah).  Hal ini khusus untuk ibadah yang ada dalil yang menunjukkan masih bermanfaatnya amalan dari orang lain seperti do’a dari saudara kita, sedekah, haji dan puasa. Adapun ibadah selain itu, perlu ditinjau ulang karena ada perselisihan ulama di dalamnya seperti kirim pahala shalat dan kirim pahala bacaan qur’an. Untuk amalan ini sebaiknya  ditinggalkan karena kita mencukupkan pada dalil dan berhati-hati dalam beribadah. Wallahul muwaffiq.

(Fatwa Syaikh Ibnu Baz di atas diterjemahkan dari: http://www.binbaz.org.sa/mat/690)

Para ulama menjelaskan bahwa ada tiga syarat boleh membadalkan haji:

  1. Orang yang membadalkan adalah orang yang telah berhaji sebelumnya.
  2. Orang yang dibadalkan telah meninggal dunia atau masih hidup namun tidak mampu berhaji karena sakit atau telah berusia senja.
  3. Orang yang dibadalkan hajinya mati dalam keadaan Islam. Jika orang yang dibadalkan adalah orang yang tidak pernah menunaikan shalat seumur hidupnya, ia bukanlah muslim sebagaimana lafazh tegas dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, alias dia sudah kafir. Sehingga tidak sah untuk dibadalkan hajinya.

(Lihat bahasan di: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/fatwa/69.htm)

Yang perlu diperhatikan:

  1. Tidak boleh banyak orang (dua orang atau lebih) sekaligus dibadalkan hajinya sebagaimana yang terjadi saat ini dalam hal kasus badal haji. Orang yang dititipi badal, malah menghajikan lima sampai sepuluh orang karena keinginannya hanya ingin dapat penghasilan yang besar. Jadi yang boleh adalah badal haji dilakukan setiap tahun hanya untuk satu orang yang dibadalkan. (Lihat bahasan di: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/fatwa/69.htm)
  2. Membadalkan haji orang lain dengan upah dilarang oleh para ulama kecuali jika yang menghajikan tidak punya harta dari dirinya sendiri sehingga butuh biaya untuk membadalkan haji. Perlu diketahui bahwa haji itu adalah amalan sholeh yang sangat mulia. Amalan sholeh tentu saja bukan untuk diperjualbelikan dan tidak boleh mencari untung duniawiyah dari amalan seperti itu. Maka sudah sepantasnya tidak mengambil upah dari amalan sholeh dalam haji seperti thowaf, sa’i, ihrom, shalat dan lempar jamarot. Sebagaimana seseorang tidak boleh mengambil upah untuk mengganti shalat orang lain. Sehingga yang jadi masalah adalah menjadikan badal haji sebagai profesi. Ketika diberi 1000 atau 2000 riyal, ia menyatakan kurang. Karena badal haji hanyalah jadi bisnisnya. Amalan badal haji yang ingin cari dunia adalah suatu kesyirikan. Jika itu syirik, lantas bagaimana bisa dijadikan pahala untuk orang yang telah mati? Renungkanlah!! Sungguh ikhlas itu benar-benar dibutuhkan dalam haji, begitu pula ketika membadalkan (menggantikan haji orang lain). (Lihat bahasan di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=226898)

Nasehat terakhir: Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16). Qotadah mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan ikhlas dalam beribadah pada-Nya.

Wallahu waliyyu taufiq.

 

*dari berbagai sumber